Thursday, 23 July 2015

Romantika Arus Balik

Oleh : Puji Windriyani

 Romantika arus balik, Karanganyar - Jakarta 27 jam. Mulai Purwokerto sudah nggremet jadi keong, sampe kaki oklek mbejeg-mbejeg rem. Di Cipali mampir tidur. Yang namanya aqua jadi barang langka di situ. Di rest area Cikampek mobil sudah gak nampung, yo wesss buka lapak di bahu jalan aja. Yang penting tiba di Jakarta selamat, rumah aman dan Monas masih tegak! Jakarta ouh Jakarta .... magnet luar biasa ... tra la la laaa."

Komentar kami menanggai isi status Mbak Puji Windriyani sbb: "Jakarta kota termacet di dunia. Waktu Lebaran, pulau Jawa adalah pulau kota termacet di dunia. Bangsa ini pintar atau bodoh? Di dunia ini transportasi utama untuk kota besar dan pulau padat penduduk adalah kereta api, bukan mobil atawa sepeda motor. Pemerintah heboh membangun jalan tol, bukan jalur kereta api. Korupsi membuat elit negeri, tidak bisa melihat jauh ke depan."

Temanku waktu studi di London adalah Tom Yam, pencari suaka dari Vietnam ketika terjadi pergolakan politik di sana. Ia adalah keturunan China daratan dan berhasil lulus S3 di universitas di Inggris bidang transportasi publik. Ia mengatakan, untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di kota-kota besar dunia, moda transportasi yang utama yang harus diprioritaskan pemerintah adalah transportasi kereta api. Karena, sekali jalan lokomotif kereta api itu bisa membawa sekian banyak gerbong yang berisi sekian banyak manusia dan/atau barang.

Kedua, barulah transportasi umum bus kota. Ketiga, taxi. Dan, keempat barulah kendaraan pribadi, baik mobil maupun sepeda motor.

Pendapat temanku ini sebenarnya pernah dikemukakan wartawan Kompas sekitar 20 tahun yang lalu dalam seri laporannya mengenai langkah solusi kemacetan lalu lintas di Jakarta.

Keempat urutan prioritas transportasi kota besar ini dapat diperluas untuk mengatasi kemacetan lalu lintas pulau padat penduduk. Jawa adalah pulau terpadat di dunia sedangkan Honshu (di mana terletak Tokyo, Kyoto, Osaka, Hirsohima) di Jepang adalah pulau terpadat kedua di dunia. Dua kali kami berkunjung ke Jepang. Yang pertama ke Tokyo dan sempat naik kereta api cepat Shinkansen dari Tokyo ke Hiroshima di selatan pulau Honshu. Kedua, ke Osaka.

Tidak ada kemacetan lalu lintas di Tokyo, Kyoto, dan Osaka. Karena, pemerintah Jepang konsisten dengan kebijakan memprioritaskan kereta api pada tempat pertama, bus kota pada tempat kedua, taxi pada tempat ketiga, dan kendaraan pribadi pada tempat keempat. Bahkan, mobil pribadi mewah buatan Amerika Serikat hanya dipajang di garasi rumah-rumah. Kendaraan pribadi di Tokyo yang lebih menonjol bukanlah mobil pribadi atau sepeda motor tapi sepeda. Kita tidak akan nyaman berjalan di trotoar karena sebentar-sebentar pasti ada bunyi bel sepeda dayung.

Keempat urutan ini kami amati diterapkan secara kontinu dan konsisten di Inggris. Kami amati juga dalam kunjungan ke Mumbai (dulu Bombay) dan Pune di Negara Bagian Maharasthra di India. Transportasi kereta api itu nomor satu. Bus umum itu nomor dua. Taxi dan bajaj nomor tiga. Barulah kendaraan pribadi nomor empat.

Lihat saja Singapura, keempat urutan prioritas ini diterapkan. Negara kota yang penuh sesak manusia ini tidak macet.

Kebijakan membangun jalan tol dalam kota dan di pulau pada penduduk hanya mendorong penduduk memakai mobil pribadi. Tol Cipali yang digembar-gemborkan akan mengatasi masalah kemacetan lalu lintas waktu mudik Lebaran ternyata tidak terbukti. Perusahaan otomotif pasti senang luar biasa untuk menggenjot produksi mobil dan sepeda motor. Harga mobil dan sepeda motor yang kian murah akan membuat solusi jalan tol berakhir dengan gigit jari.

Mana lebih gampang dan murah? Membebaskan tanah untuk membuat jalan tol atau membuat jalur rel kereta api. Mana lebih mudah dan murah, terus memperlebar jalur jalan tol atau membuat track kereta api ganda?

Saya curiga kebijakan yang menyalahi teori urutan prioritas transportasi publik ini yang diikuti berbagai negara di dunia disebabkan oleh sikap mental korupsi yang masih berakar di hati para pejabat pembuat kebijakan negeri ini. Visi mereka hanya satu langkah di depan. Yang penting ada proyek dan tahun depan ada proyek perbaikan jalan lagi. Ini jangkauan pandang kuda dengan kaca mata kuda, hanya lihat lurus ke depan tanpa mempertimbangkan berbagai implikasi jangka panjang.

Sebenanrya mereka adalah orang-orang pintar yang telah melihat sistem transportasi di berbagai belahan dunia. Bukan mereka tidak mau belajar dari negara lain di dunia. Mungkin pertimbangan uang masuk kantong yang jadi prioritas mereka.

No comments:

Post a Comment